Header


Delegasi Tabayun
Download Relaas Delegasi Tabayun


SIPP PA SIDRAP
Sistem Informasi Penelusuran Perkara PA Sidenreng Rappang


putusan.mahkamahagung.go.id
Portal Akses Informasi Putusan di Lingkungan Peradilan

 
komdanas.mahkamahagung.go.id
Portal Komunikasi Data Nasional di Lingkungan Peradilan

×

Error

Could not load feed: https://www.pta-makassarkota.go.id/seputar-pengadilan-agama/feed/rss/

Buka Puasa bersama 15 Juli 2014

Klik To Gallery Foto

    Nuansa puasa Ramadhan pada tahun ini di Pengadilan Agama Sidenreng Rappang terasa lebih kental karena setiap hari dari Senin sampai Jum’at pukul 8.00 pagi sampai 8.45 diadakan pembacaan Al- Quran secara berjamaah. Tadarrus ini dipimpin langsung oleh Ketua dan Wakil Ketua Pengadilan Agama Sidenreng Rappang, tidak jarang dalam tadarrus ini diteruskan dengan koreksi bacaan yang kurang tepat dan belum sempurna.

    Selain acara tadarrusan harian itu pada tanggal 15 Juli 2014 M bertepatan dengan tanggal 17 Ramadhan 1435 H diadakan lagi acara buka puasa bersama. Acara seperti ini pernah diadakan tanggal 7 Juli 2014 lalu dan ini adalah kelanjutan dari acara sebelumya.

    Acara yang dihadiri oleh seluruh karayawan/karyawati dan seluruh keluarga ini dilanjutkan dengan shalat Magrib, shalat Isya dan taraweh bersama dan tausiyah ramadhan. Ada yang istimewa pada acara ini yaitu shalat berjamaah Isya’ dan taraweh dipimpin langsung oleh Bapak Ketua Pengadilan Agama Sidenreng Rappang dan yang memberikan tausiyah Ramadhan adalah Drs. H. Hamzanwadi, M.H. salah seorang hakim di Pengadilan Agama Sidenreng Rappang.

    H. Hamzanwadi dalam tausiyah Ramadhannya menjelaskan tentang pelajaran yang terkandung dalam surat Al-Kautsar. Menurutnya kandungan surat al Kautsar antara lain adalah :

    Kesatu mengandung semangat motivator, sebab surat ini turun berkenaan dengan hinaan yang dialamatkan kepada Baginda Rasul saw ketika putra beliau wafat, orang-orang Quraisy menghina beliau dengan mengatakan bahwa Rasul adalah orang yang terputus (abtar) keturunannya. Orang Quraisy menganggap wafatnya anak laki-laki sebagai musibah atau tanda orang yang tidak bakalan dapat keturunan, hal ini dianggap hina oleh orang quraisy sebab anak laki-laki perlambang penerus keturunan sedang anak perempuan disepelekan. Melalui surat Kautsar ini Allah swt menjawab bahwa bukan Rasul yang abtar (terputus) tetapi mereka (orang Quraisy yang menghina itu ) yang Abtar ( hina karena tidak akan dikenal dirinya dan keturunannya nanti).

   Kedua kata aktoina mengandung arti memberi untuk dimiliki oleh orang yang diberi, artinya menjadi milik yang menerima. Disisi lain arti kata itu pemberian yang sedikit sedang kata berikutnya Kautsar berarti banyak. Kalau digabung menjadi kalimat aktoinaka al Kautsar maka secara leterlak artinya kami memberikan kamu sedikit—banyak. H. Hamzanwadi mengutip pendapat Prof. Dr. Quraisy Syihab menyatakan bahwa dalam ayat ini terkandung pelajaran yaitu ketika memberi kepada orang lain maka anggap pemberian kita itu sedikit sebaliknya ketika menerima pemberian maka rasakan sebagai pemberian yang sangat banyak. Hal ini akan membawa dampak tawaddu’ bagi pemberi dan rasa syukur bagi penerima.

    Ketiga kata fa solli lirobbika wan har mengandung arti jika Allah menganugrahkan segalanya yang banyak maka segeralah (tidak ada jeda) untuk melaksanakan shalat dan berkorbanlah dengan menyembelih hewan. Hakim yang ditunjuk sebagai Humas itu menjelaskan lebih lanjut kata solli yang berarti shalat disini diambil sebagai sampel untuk menunjukkan bahwa ibadah yang paling utama adalah shalat, ia dijadikan sebagai ukuran diterima semua amalnya atau ditolak. Jadi menyebut kata shalat itu artinya jika dianugrahkan Allah segala sesuatu, maka segeralah zikrullah, jaga selalu hubungan baik dengan Allah (hablum minalllah). Sedangkan kata wanhar sebagai lambang bahwa memberi makan dengan menyembelih hewan kepada yang membutuhkan adalah ibadah yang paling baik (utama) yang berhubungan dengan hubungan sesama manusia. Jadi ayat ini mengajarkan agar selalu menjaga hubungan vertikal dengan Allah dalam semua hal khususnya mengenai syukur padaNya dan selalu menjaga hubungan baik dengan sesama makhluknya manusia dan alam sekitarnya (hubungan horizontal), dan yang paling pokok dalam semua hubungan itu harus dilakukan sepenuh hati hanya karena Allah swt (ikhlas).

   Keempat kalimat innasyani aka huwal abtar ( orang yang menghina, memusuhimu itu adalah orang yang terputus (dari rahmat Allah swt). Ini mengandung pembelaan dan jaminan dari Allah khususnya bagi Rasul saw dan kepada seluruh hambanya yaitu jika seorang hamba benar-benar ibadah karena dan hanya pada Allah menjaga hablumminallah dan hablum-min-nas dengan shalat dan ibadah lainnya serta memberi makan fakir miskin dan menjaga hak-hak manusia lainnya maka Allah akan melindunginya dari kejahatan orang-orang yang benci, memusuhi dan menghinanya. Hinaan, cacian, dan segala kejahatan yang dilancarkan orang jahat dan hina tidak akan berarti bagi orang yang dijaga dan dilindungi oleh Allah swt.

(Drs. H. Hamzanwadi, M.H.)

 

JoomShaper