Header


Delegasi Tabayun
Download Relaas Delegasi Tabayun


SIPP PA SIDRAP
Sistem Informasi Penelusuran Perkara PA Sidenreng Rappang


putusan.mahkamahagung.go.id
Portal Akses Informasi Putusan di Lingkungan Peradilan

 
komdanas.mahkamahagung.go.id
Portal Komunikasi Data Nasional di Lingkungan Peradilan

×

Error

Could not load feed: https://www.pta-makassarkota.go.id/seputar-pengadilan-agama/feed/rss/

EMBINAAN KETUA PENGADILAN AGAMA SIDRAP PADA PERTEMUAN BULANAN DARMA YUKTIKARINI CAB. KABUPATEN SIDRAP

Klik To Galery Foto

          Pertemuan bulanan pada hari Jumat ( 24/04/2015) Dharma Yukti Karini Cabang Kabupaten Sidrap diisi dengan pembinaan dari Bapak Ketua Pengadilan Agama Sidenreng Rappang Drs.H.Muh. Anwar Saleh, SH.,MH. Dengan mengambil judul “ Konsep Keluarga SAKINAH, MAWADDAH dan RAHMAH “. Hadir dalam acara pertemuan bulanan darma yukti karini Cabang Kabupaten Sidrap, Ibu Ketua Hj. Nurhany Zulkifli Atjo, S.Pd, Ibu Wakil Ketua Hj. Nurasiah Anwar serta seluruh pengurus dan anggota baik dari Pengadilan Agama Sidenreng rappang, maupun dari pengadilan Negerri Sidenrenag Rappang, dimana pada bulan April ini di adakan di Kantor Pengadilan Agama Sidrap

         Bapak Ketua Pengadilan Agama Sidenreng rappang selaku Pembina, diawal pembinaanya mengatakan bahwa keluarga Sakinah, mawaddah dan rahmah, merupakan dambaan setiap muslim dan muslimah yang akan menghadapi mahligai rumah tangga, maupun yang telah dan sedang mengarungi kehidupan dalam rumah tangga. Keluarga yang sakinah adalah keluaarga yang di dalamnya di tegakkan syariat Allah swt.. Keluarga yang didalamnya terdapat sikap saling memahami dan keluarga yang didalamnya terdapat rasa cinta dan pergaulan yang baik.

          Namun mencapai keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah, tersebut, bukanlah suatu hal yang mudah, tetapi bukan juga sesuatu yang mustahil, oleh karena itu, setiap muslim dan muslimah yang hendak berumah tangga, berkewajiban untuk mempelajari dan memahami konsep dan tujuan pernikahan dalam Islam, sebagai bekal utama sebelum melangkah ke jenjang pernikahan dan akhirnya meraih keluarga yang sakinah mawaddah dan rahmah dengan izin Allah swt.

          Lebih lanjut Bapak Ketua mengatakan :“Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah warahmah “, Kata-kata itulah yang sering diucapkan atau ucapan yang diberikan kepada calon suami isteri yang akan menikah.

 

KELUARGA YANG SAKINAH

          Sakinah berasal dari bahas Arab yang mengandung arti : tenang, damai, terhormat, aman dan nyaman, merasa dilindungi, penuh kasih sayang, dan memperoleh pembelaan. Dengan demikian sakinah berati keluarga yang semua anggotanya merasakan ketenangan, kedamaian, keamanan, ketenteraman, perlindungan, kebahagiaan, keberkahan dan penghargaan.

Setiap jenis laki-laki atau perempuan, jantan atau betina dilengkapi oleh Allah swt dengan alat serta aneka sifat dan kecenderungan yang tidak dapat berfungsi secara sempurna, jika ia berdiri sendiri. Kesempurnaan eksistensi makhluk hanya tercapai dengan bergabungnya masing-masing pasangan dengan pasangannya sesuai dengan sunnatullah.

          Memang benar bahwa sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya. Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat, dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan. Karena alasan-alasan inilah maka manusia butuh pasangan hidup dengan jalan menikah, berkeluarga bahkan bermasyarakat dan berbangsa. Kategori hidup yang didambakan oleh suami isteri setiap saat, termasuk saat sang suami meninggalkan rumah dan anak isterinya.

                   Sakinah akan terlihaat pada kecerahan raut muka yang disertai kelapangan dada, budi bahasa yang halus yang dilakukan oleh ketenangan batin, akibat bersatunya pemahaman dan kesucian hati, serta bergabungnya kejelasan pandangan dengan tekad yang kuat. Itulah makna sakinah secara umum dan makna-makna tersebut yang diharapkan dapat menghiasi setiap keluarga yang hendak menyandang sebagai keluarga sakinah.

          Kapan keluarga kita disebut keluarga sakinah, misalnya : seorang suami yang bekerja mencari nafkah diluar rumah, dan suami tersebut nanti pulang ke rumah pada sore hari, jika si suami ini meresa tenang, damai, nyaman, tenteram, pada saat ia pulang dari tempat kerjanya pada sore hari dan semakin dekat dengan rumahnya. Maka si suami ini memilki perasaan sakinah. Namun jika setiap kali ia mau pulang ke rumahnya dan semakin dekat dengan rumahnya, namun hatinya semakin gelisah, tidak nyaman, enggan pulang karena tidak tenag di rumah, maka sangat dipertanyakan pasti tidak ada rasa sakinahnya. Apalagi jika si isteri berdoa : “ semoga suamiku tidak jadi pulang, atau semoga suamiku dapat tugas lembur sampai satu bulan, dan bahkan isterinya berdoa : Semoga suamiku kecelakaan dan meninggal dunia, maka sudah terjadi yang demikian dalam sebuah rumah tangga, maka rumah tangga itu dapat dipastikan sudah tidak ada lagi sakinah.

          Keluarga sakinah memilki suasana yang damai, tenag, tenteram, aman, nyaman, sejuk, penuh cinta kasih dan sayang. Keluarga yang saling menerima, saling memberi, saling memahami, saling membutuhkan. Keluargaa yang saling menasehati, saling menjaga, saling melindungi, saling berbaik sangka. Keluarga yang yang saling memaafkan, saling mengalah, saling mengingatkan dalam kebaikan, saling mencintai, saling merindukan, saling mengasihi. Keluarga yang diliputi oleh suasana jiwa penuh kesyukuran, jauh dari penyelewengan dan kerusakann.

KELUARGA YANG MAWADDAH.

Mawaddah berasal dari bahasa Arab, yang mengandung arti : Jenis cinta membara, perasaan cinta dan kasih sayang yang menggebu kepada pasanga jenisnya. Mawaddah adalah perasaan cinta yang muncul dengan dorongan nafsu kepada pasangan jenisnya atau muncul karena adanya sebab-sebab yang bercorak fisik, seperti : cinta yang muncul karena kecantikan, ketampangan, kemolekan dan kemulusan fisik, tubuh yang seksi atau muncul karena hrta benda, kedudukan pangkat dan sebagainya.

          Mawaddah ini muncul di dalam pernikahan, ada faktor-faktor yang bisa menumbuhkan dua perasaan tersebut. Dengan adanya seorang isteri. Suami dapat merasakan kesenangan dan kenikmatan, serta mendapatkan manfaat dengan adanya anak dan mendidik dan membesarkan mereka. Disamping itu dia merasakan adanya ketenangan, kedekatan dan kecenderungan kepada isterinya. Sehingga secara umum tidak akan didapatkan mawaddah diantara manusia yang satu dengan manusia yang lainnya sebagaimana mawaddah (rasa cinta) yang ada diantara suami isteri. Rasa cinta yang tumbuh diantara suami isteri adalah anugerah dari Allah swt kepada keduanya dan ini merupakan cinta yang sifatnya tabiat. Tidaklah tercelah orang yang senantiasa memilki rasa cinta kepada pasangan hidupnya yang sah. Bahkan hal itu merupakan kesempurnaan yang semestinya di syukuri.

Allah swt. menumbuhkan mawaddah tersebut setelah pernikahan dua insan. Pada hal mungkin sebelumnya, pasangan suami isteri itu tidak saling mengenal dan tidak akan ada hubungan yang mungkin menyebabkan adanya rasa kasih sayang, apalagi rasa cinta.

          Biasanya mawaddah muncul pada pasangan muda atau pasangan yang baru menikah, dimana corak fisiknya mash sangat kuat. Misalnya, ketika seorang laki-laki ditanya : “ Mengapa Anda menikah dengan perempuan itu, bukan dengan yang lainya ?, pasti jawabannya adalah : karena perempuan itu cantik, seksi, kulitnya bersih dan lain-lain, yang kesemuanya bercorak fisik, sebab fisik itu mawaddah.

          Demikian pula ketika seorang perempuan ditanya : “ Mengapa anda menikah dengan laki-laki itu, bukan dengan yang lainnya ?, jawabannya adalah : “ Karena ia tampan, macho, kaya dan lain-lain sebagianya yang bercorak fisik, sebab fisik, itulah juga disebut mawaddah.

KELUARGA YANG RAHMAH

          Rahmah berasal dari bahasa Arab yang mengandung arti ; ampunan, anugerah, karunia, rahmat, belas kasih, juga reski.

          Rahmah merupakan jenis cinta kasih dan sayang yang lembut, terpancar dari kedalaman hati yang tulus, siap berkorban, siap melindungi yang dicintai tanpa pamrih.

          Rasa sayang kepada pasangan kita merupakan bentuk kesetiaan dan kebahagiaan yang dihasilkannya. Biasanya rahmah muncul pada pasangan yang sudah lama berkeluarga dimana tautan hati dan perasaan sudah sangat kuat, saling membutuhkan, saling memberi, saling menerima, saling memahami. Corak fisik sudah tidak dominan lagi.

          Misalnya seorang kakek yang berusia 80 tahun, hidup rukun, tenang dan harmonis dengan isterinya yang berusia 70 tahun. Ketika ditanya : Mengapa kakek masih mencintai nenek pada umur setua itu ?. Tidak mungkin kakek menjawab : “ karena nenekmu itu cantik, seksi, gesit dsan seterusnya, karena si nenek sudah ompong dan kulitnya berkeriput. Demikian pula ketika si nenek ditanya : “ Mengapa nenek masih mencintai kakek pada umur setua itu ?. Nenek tidak akan menjawab, karena kakekmu cakep, jantan, macho, perkasa dan seterusnya, karena si kakek sudah uzur dan sering sakit-sakitan. Rasa cinta dan kasih sayang antara kakek dan nenek tidak bisa menjawab dan menjelaskan lagi mengapa dan sebab apa nenek dan kakek masih saling mencintai.

          Rasa sayang kepada pasangannya merupakan bentuk kesetiaan dan kebahagiaan yang dihasilkannya.

Sebelum menutup pembinaan dari bapak ketua, beliaumenyimpulkan dan perlu digaris bawahi bahwa sakinah mawaddah dan rahmah tidak datang begitu saja, tetapi ada syarat bagi kehadirannya. Ia harus diperjuangkan dan yang lebih utama adalah menyangkut kalbu (hati). Sakinah, mawaddah dan rahmah bersumber dari dalam kalbu (hati) lalu terpancar keluar dalam bentuk aktifitas sehari-hari, baik di dalam keluarga maupun dalam masyarakat.

JoomShaper